WELCOME

Selamat datang di LEMONADE PHOTOGRAPHY. jika anda menyukai artikel-artikel saya, jangan lupa tinggalkan jempol anda (LIKE) atau komentar sebagai oleh-oleh. Terima kasih telah mengunjungi dan Selamat melihat-lihat... HOPE YOU LIKE THAT. :)

YANG LAGI ANGET :





ORIGIN VISITOR :

TRANSLATOR

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Diberdayakan oleh Blogger.
muhammad yanis On Minggu, 25 Mei 2014

Kaos lengan panjang nevada ditemani jeans biru cardinal serta sepasang sepatu macbeth membungkus badan seorang remaja. Seorang pria berkulit gelap berdiri diatas depan sebuah boat yang bermuatan 12 sepeda motor dan satu ruang kecil untuk penumpang. Bagaikan monkey de luffi d film one piece. . 
Siapakah dia ??? Saya bertanya dalam hati, yang pada saat saya sadari pria itu adalah SAYA. . . :D

Jam 2 lebih 3 menit boat yang saya tumpangi mulai membuka mata. Bergetar dan berbunyi lalu melaju perlahan memutar haluan dan menyibak air yang terlentang bagaikan permadani jumbo. Suara teduh namun gaduh dari bawah sana seakan menyempurnakan kepenasaranku untuk segera menginjak kaki d tanah kelahiranku. Yaaapps. . Pulau yang satu ini adalah pulau tumpah darahku. Aku di lahirkan disana saat 7 february 1991 silam. Pulau yang misterius ini adalah pulau yang terkenal dengan nama Pulo Nasi.

Oke lemonaders, pada perjumpaan kita kali ini saya akan bercerita dan berbagi beberapa cuplikan indah tentang Pulo Aceh, khususnya Pulo Nasi. Memang kunjungan saya kali ini merupakan kunjungan pertama kali saya setelah tsunami. Terakhir yang saya ingat, saya kesini sekitar tahun 2003.




Sementara saya asyik berkecamuk dengan dongeng nyata yang ditawarkan Tuhan, tanpa terasa rangkaian kayu yang membentuk boat ini telah mengantarkan saya ke tengah laut. Birunya hamparan air ditambah asinnya aroma ombak melengkapi perjalanan saya. Saya sengaja berdiri tegap di depan kapal hanya untuk menyaksikan kota-kota yang menjadi suram serta gunung-gunung yang tenggelam di dalam kabut tipis. Tak ada lumba-lumba ataupun camar. Siang itu seakan semua penghuni laut sedang beristirahat. Laut yang tak bergemuruhpun hanya sesekali melemparkan buihnya yang menerpa muka dari boat kecil ini.

Setelah sekian lama menelan asinnya beberapa butiran dari pecahan ombak dan melewati 45 menit perjalanan, akhirnya mata saya disambut hangat oleh pemandangan yang wooow dari pelabuhan kecil di tepi pantai. Biru kelam air laut perlahan tampak samar dan menyamar menjadi hijau lalu memutih dipinggir pasir. Pelabuhan mini yang satu ini disebut pelabuhan deudap, karna memang pelabuhan tersebut terletak di desa Deudap. Setelah menurunkan semua bahan bawaan dan mengambil sepeda motor, saya langsung bergegas kerumah nenek di desa Leubok.





Sesampainya dirumah nenek, pemandangan yang menghentikan niat saya untuk merebahkan badanpun kini datang. Sambutan mulia dari para sodara yang kebanyakan gak saya kenal menimbulkan rasa bahagia tersendiri di dalam dada. Tawa ceria serta riuhnya suara bocah-bocah desa membangkitkan gairah dan menghilangkan lelah selama perjalanan. Dalam hati saya hanya mampu berkata, "inilah nikmat kebersamaan yang terangkum indah lewat tali persaudaraan". Sebuah keadaan yang menjadi langka untuk suasana kota. Dimana adat dan budaya masih sangat terasa kental.

Ini dia guys sesuatu yg sangat saya takutkan. Ternyata akibat kemarau yang berkepanjangan masyarakat disini kesulitan air. Maklum disini belum masuk air bersih ataupun PDAM. Jadi masyarakat disini menggunakan jasa air sumur sebagai pembasuh badan. Kepaksa dong guys saya juga harus mandi melalui shower alami alias sumur (daripada saya gak mandi). Tanpa pikir panjang saya langsung memakai kain basahan dan lets go to sumur yang berada disamping jalan dan tempatnya juga terbuka. Kebayang donk guys ?? Saya udah kayak aisyah aja. Bedanya kalo aisyah mandi dikali. Nah ane mandinya disumur guys. . Wkwkwk 

Bukan hanya itu guys, dipulo aceh juga sangat sulit untuk menemukan signal hp. Dengan kata lain, no phone no communication, nowoman, no cry. . :D

Berikut ini saya hidangkan beberapa keindahan alam yang menggugah selera di Pulo Nasi :

1. Alue reuyeung

Alue reuyeung adalah sebuah pantai yang sangat sering dipakai oleh para turis untuk bermalam di atas pasir. Selain itu, dukungan ombak yang besar-besar sangat mempermudah mereka untuk kegiatan surfing. Pantai yang satu ini sangat dekat dengan rumah nenek saya sehingga sangat mudah bagi saya untuk menyapanya.







2. Pasie janeng

Tujuan saya selanjutnya adalah mencicipi sunset di ujung pantai. Pantai yang beruntung itu adalah the sands of janeng alias Pasie Janeng

Setelah melakukan perjalanan melalui beberapa desa, akhirnya saya sampai di Pasie Janeng. Namun nasib indah tak berpihak pada saya. Saya gagal mendapatkan sikuning telur ala senja karna ketutup awan. Namun meskipun begitu saya tak menyia-nyiakan perjalanan ini. Saya tetap mengambil beberapa potongan dari Pasie Janeng. Walaupun kata penduduk disitu pemandangan yang begini sangatlah jelek, tapi dalam hati saya berkata "jelek aja gini, kalo sempat bagus gimana ya ??? (ngiler)".







3. Lamteng

Di Lamteng terdapat sebuah pelabuhan. Pelabuhan ini dibangun setelah tsunami. Namun sayangnya, kegunaan dari pelabuhan ini disia-siakan. Karena penduduk disini lebih dominan menggunakan boat ketimbang menaiki kapal. Sehingga tidak heran juga jika seni kotoran yang di arsiteki oleh sapi pun sangat mudah di temukan.










4. Deumiet

Berjalan beberapa meter kedepan anda langsung bisa menemukan deumit. Deumiet adalah sebuah desa dengan hunian hanya beberapa KK. Keindahan dari deumiet ini bisa dinikmati dari atas bukit yang jalannya berkelok kelok. Selain itu, pulau sabang juga jelas tersaji layaknya nasi di meja makan. 








5. Nipah

Nipah adalah sebuah hamparan pasir yg berbarengan dengan ombak tanpa ada makhluk hunian. Nipah adalah tetangga deumit. Sama seperti deumiet, keindahan dari pantai nipah ini sangat banyak di dokumentasi oleh para turis memalui bukit. Jalan yg berkelok-kelok hingga kepuncaknya menambah leluasa pemandangan mata untuk merekam hamparan pantai yang di gandeng oleh gunung-gunung yang berdiri tegak bak preman pasar minggu. Lekukan awan yang begitu khas juga melengkapi kesempurnaan ombak di ujung karang. Dari atas bukit ini juga jelas terlihat lampu lampu yang berkelip kecil yang berasal dari banda aceh. 







6. Lhok reudeup

Anda bisa mendapatkan Lhok Reudeup hanya setelah anda melewati daerah Lam Balum. Di Lhok Reudeup ini anda dapat menemukan sebuah mercusuar peninggalan kuno. Mercusuar ini menambah nilai klasik tersendiri bagi anda penggemar photography jadul.







7. Deudap

Deudap juga merupakan sebuah pelabuhan. Namun dideudap nggak tersedia pelabuhan untuk kapal, melainkan hanya pelabuhan kecil untuk boat. Selain merupakan tempat pulang perginya pengunjung, pemandangan yang terhidang disana juga nggak kalah mantap dibandingkan tempat-tempat diatas.












Demikianlah beberapa cuplikan dari keindahan Pulo Nasi yang berhasil saya abadikan dalam perjalanan saya yang berdurasi tiga hari. Semoga artikel diatas dapat menarik minat anda untuk berkunjung ataupun camping ke Pulo Nasi. Sebenarnya masih banyak lagi tempat lain di Pulo ini seperti daerah Mata ie. Daerah ini sangat rame dikunjungi oleh warga maupun wisatawan hanya untuk mencari batu cincin. Namun karena perjalanan saya yang begitu singkat, jadi saya nggak sempat mengabadikan banyak hal. Mungkin suatu saat nanti saya akan berkunjung lagi kesana tentu dengan pemandangan yang lebih berbeda. . .

Trust Me !! That Is a Great Place. . .!!


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments